You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Desa Tangga Barito
Tangga Barito

Kec. Dulupi, Kab. Boalemo, Provinsi Gorontalo

Sholat Idul Fitri 1447 H di Desa Tangga Barito: Momentum Membersihkan Hati dan Mempererat Persaudaraan

Administrator 21 Maret 2026 Dibaca 2 Kali

Tangga Barito, 21 Maret 2026 — Dalam suasana penuh kebahagiaan dan keberkahan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, masyarakat Desa Tangga Barito yang terdiri dari Dusun I Bubotulo dan Dusun II Olisama melaksanakan Sholat Idul Fitri secara berjamaah di Masjid Babussalam pada Sabtu pagi (21/03/2026).

Sejak fajar menyingsing, masyarakat telah berbondong-bondong menuju lokasi pelaksanaan sholat dengan mengenakan pakaian terbaik mereka. Suasana religius dan penuh kekhidmatan terasa begitu kuat, diiringi lantunan takbir yang menggema, mencerminkan rasa syukur atas keberhasilan menjalani ibadah di bulan suci Ramadhan.

Pelaksanaan Sholat Idul Fitri dimulai pada pagi hari dengan tertib dan lancar. Bertindak sebagai imam adalah Abdurahaman Yane , yang memimpin menjalankan ibadah dengan penuh kekhusyukan. Sementara itu, khutbah Idul Fitri disampaikan oleh Hasanudin Lamadaju dengan tema “Hari Kemenangan: Saat Hati Dibersihkan dan Persaudaraan Disatukan.”

Dalam khutbahnya, khatib menegaskan bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momentum spiritual untuk kembali kepada fitrah—keadaan suci sebagaimana manusia diciptakan. Setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadhan, setiap Muslim diharapkan mengalami perubahan yang nyata, baik dalam sikap, perilaku, maupun kualitas keimanan.

Khatib mengajak seluruh jamaah untuk melakukan refleksi mendalam: apakah Ramadhan telah membentuk pribadi yang lebih sabar, lebih lembut, dan lebih mampu menjaga lisan serta amal. Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi penting agar ibadah yang telah dijalankan tidak berlalu tanpa makna.

Lebih lanjutnya, disampaikan bahwa hakikat perayaan Idul Fitri tidak terletak pada kemewahan lahiriah seperti pakaian baru atau hidangan yang melimpah, melainkan pada keberhasilan membersihkan hati dari sifat-sifat tercela seperti dendam, iri hati, dan kebencian.

Salah satu pesan utama dalam khutbah adalah pentingnya saling memaafkan sebagai landasan kehidupan sosial yang harmonis. Khatib menekankan bahwa hubungan antar sesama manusia (hablum minannas) hanya dapat diperbaiki melalui kerelaan hati untuk memberi dan menerima maaf.

Momentum Idul Fitri menjadi kesempatan emas bagi setiap individu untuk membuka pintu maaf, memperbaiki hubungan yang renggang, serta mempererat kembali tali persaudaraan yang mungkin sempat terputus. Dalam kehidupan sehari-hari, kesalahan dapat terjadi melalui ucapan maupun perbuatan, termasuk dalam interaksi di lingkungan sosial maupun media digital.

Oleh karena itu, semangat saling memaafkan tidak hanya menjadi tradisi, tetapi juga merupakan perintah agama yang memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi.

Dalam khutbah juga disampaikan refleksi terhadap kondisi kemanusiaan yang terjadi di berbagai belahan dunia, yang mengingatkan umat akan pentingnya menjaga perdamaian dan menghindari konflik yang menghilangkan kebencian dan permusuhan.

Pesan ini menjadi pengingat bahwa nilai-nilai Idul Fitri tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga sosial dan universal. Umat ​​Islam diajak untuk menumbuhkan empati, kepedulian, serta semangat persaudaraan, baik dalam lingkup lokal maupun global.

Khatib juga memberikan penekanan khusus pada pentingnya berbakti kepada orang tua sebagai salah satu bentuk pengamalan nilai-nilai Idul Fitri. Momentum hari raya menjadi waktu yang tepat untuk memohon maaf kepada orang tua atas segala kesalahan, serta mempererat hubungan kekeluargaan.

Selain itu, keharmonisan dalam keluarga, baik antara suami dan istri maupun antar anggota keluarga lainnya, menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang kuat dan sejahtera.

Usai pelaksanaan Sholat Idul Fitri, suasana kehangatan dan kebersamaan tampak nyata ketika jamaah saling bersalaman dan bermaaf-maafan. Tradisi ini menjadi bentuk nyata dari penerapan nilai-nilai yang telah disampaikan dalam khutbah.

Kebersamaan yang terjalin tidak hanya mempererat hubungan antarindividu, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat Desa Tangga Barito.

Diharapkan momentum ini dapat menjadi titik awal untuk terus memperkuat nilai-nilai keagamaan, kebersamaan, dan persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari. Semangat Idul Fitri hendaknya tidak berhenti pada perayaan semata, namun terus hidup dalam tindakan nyata di tengah masyarakat.

Dengan demikian, Desa Tangga Barito dapat terus berkembang menjadi lingkungan yang harmonis, religius, dan penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Bagikan Artikel Ini
Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image

APBDes 2026 Pelaksanaan

APBDes 2026 Pendapatan

APBDes 2026 Pembelanjaan